Senin, 14 Maret 2011
di
18.42
|
Didalam usia 31 tahun (1938), masa darah muda masih cepat alirnya dalam diri, dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa, di waktu itulah “ilham” Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini mulai kususun dan dimuat berturut-turut dalam majalah yang kupimpin, Pedoman Masyarakat.*
Setelah itu dia diterbitkan menjadi buku oleh saudara M. Syarkawi (cetakan kedua), seorang pemuda yang giat menebitkan buku – buku yang berharga. Belum berapa lama tersiar, dia pun habis. Banyak pemudayang berkata: “Seakan-akan Tuan menceritakan nasibku sendiri”. Ada pula yang berkata: “Barabgkali Tuan sendiri yang Tuan ceritakan!”
Sesungguhnya bagi seorang golongan agama, mengarang sebuah buku roman, adalah menyalahi kebiasaan yang umum dan lazim pada waktu itu. Dari kalangan agama, pada mulanya, saya mendapat taatangan keras. Tetapi setelah sepuluh tahun berlalu, dengan sendirinya heninglah serangan dan tantangan itu, dan kian lama kian mengertila orang apa perlunya kesenia dan keindahan dalam hidup manusia.
Ada pula yang berkata: “Bilakah lagi Tuan akan membuat cerita sebagai Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan yang lain-lain itu?” Bagaimanakah saya akan menjawab pertanyaan itu, karena cita-cita masih tetap besar dan tinggi, sedang usia telah bertambah dan zaman telah berubah. Khayal dan sentiment zaman muda kian sehari kian terdesak oleh pengalaman-pengalaman, terutama di dalam saring-tapisan “Revolusi”.
Maka dengan persetujuan Saudara M. Syarkawi sendiri, yang telah mencetak buku ini dua kali (pertama tahun 1939, dan kedua tahun 1949), cetakan seterusnya diurus oleh Balai Pustaka,* sebagai perbendaharaan tanah air yang senantiasa bekerja keras memajukan perpustakaan dan kesustraan tanah air. Baik di zaman yang telah dilampauinya, apalagi sesudah kemerdekaan bangsa dan nusa.
Dengan dicetaknya buku ini kembali, sempatlah saya mengambil dua kesempatan. Kesempatan pertama ialah mengoreksi kesalahan cetak pada cetakan-cetakan yang dahulu, dan menyesuaikan ejaanya dengan ejaan-ejaan yang baru, sesudah perang. Sesudah Bahasa Indonesia “bulat-bulat” menjadi kepunyaan bangsa Indonesia.
Kedua, ialah kesemptan diri sendiri “bercermin air”, melihat diri sendiri di zaman yang telah dilaluinya; jelas kelihatan dua hal yang mempengaruhi jiwa. Pertama, sentimen yang bergelora. Kedua, tekanan suasana, sebab kemerdekaan masih dalam cita-cita dan penjajahan masih menekan dalam segala lapangan hidup, supaya hal itu tetap kelihatan, maka ketika membacanya kembali, jalan cerita dan perasaan pengarang, yang menjadi inti buku, tidaklah diubah-ubah. Sebab dia adalah puncak kekayaan jiwa yang dapat diciptakan di zaman muda dan di zaman sebelum suasan merdeka.
Moga-moga kita kiranya hasil tangan angkatan kami ini dilanjutkan oleh angkatan yang dibelakang, dengan lebih berkembang dan maju. Karena dengan terbukanya “gapura kemerdekaan”, segala kesempatan pun terbukalah!
Pengarang
Diposting oleh
Bacalah
Label:
Novel 'Tenggelamnya Kapal Vanderwijck

0 komentar:
Posting Komentar